Rabu, 14 Desember 2011

Soft Skill Dunia Pendidikan

MAKALAH
PENDIDIKAN KARAKTER




 

                                                            Disusun oleh : diargo hendroan doni







SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
YAYASAN MERANGIN (STKIP YPM BANGKO)
TAHUN AJARAN 2011/2012


                                                                                                                                                                  






KATA PENGANTAR

        Puji dan syukur kami panjatkan kepada allah Tuhan Yang Maha Esa, berkat limpahan karunianya kami dapat menyelesaikan penulisan makalah yang berjudul “Memahami Soft Skill Dunia Pendidikan dari Elfindri”
        Makalah ini diajukan untuk melengkapi tugas kelompok mata kuliah pendidikan karakter.
        Makalah ini berisi tentang pemahaman soft skill dunia pendidikan pendidikan.
        Kami menyadari bahwa makalah ini belum sempurna, olek karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang dapat kami gunakan sebagai masukan untuk perbaikan makalah berikutnya.
        Akhir kata kami mengucapkan banyak terima kasih kepada teman – teman yang telah membantu membuat makalah ini.





















Soft Skill Dunia Pendidikan

        Soft skill perlu dimiliki oleh siapapun yang ingin menghadang kompetisi. Salah satunya merupakan amanah, dan mendukung kegiatan keramahtamahan hospitaly. Pada bagian ini kita memasuki tempat dimana soft skill juga bias ditumbuhkan melalui berbagai bentuk yang dilaksanakan di sekolah, di lingkungan pendidikan seperti kampus, dan atau dimana saja pendidikan formal diberikan.
        Kenapa di sekolah dan kampus yang juga perlu dijadikan sebagai bagian dari proses penemuan ranah soft skill ? Karena sebagian besar mahasiswa menghabiskan waktunya belajar dan berintegrasi dengan teman – temannya di kampus.
        Dosen mesti melihat ini sebagai salah satu yang sangat penting, selain tetap meningkatkan pencapaian kualitas keilmuan dan psikomotorik. Proses pendidikan yang diberikan di kampuspun akan menghasilkan optimalisasi dari bakat dan potensi.
        Menurut guru/ dosen atau orang tua memahami tentang eksistensi soft skill dalam konteks pengembangan anak – anak generasi mendatang. Menuntun guru/ dosen atau orang tua memiliki kesadaran dan langkah – langkah bagaimana memasukan soft skill ke dalam proses pembelajaran.

BAGAN PROSES MENUMBUHKAN SOFT SKILL
 












Untuk mencapai agar soft skill dapat kita kuasai pertanyaan besarnya adalah bagaimana strategi kita menumbuhkan soft skill di dunia pendidikan ? Untuk itu setidaknya dikemukakan beberapa cara yang pantas dilakukan adalah diperlihatkan pada gambar di bawah ini supaya mudah dipahami. Pertama adalah desain soft skill masuk ke dalam kurikulum pembelajaran. Kedua adalah mengembangkan kegiatan dan aktifitas anak di asrama atau di rumah masing – masing. Dan ketiga adalah mengembangkan pada kegiatan ekstra curiculer.

Cara Pertama Integrasi ke Kurikulum
Di sadari atau tidak, selama ini soft skill diberikan, kalaupun ada melalui penetapan mata ajar. Masing – masing jurusan dan bidang memberanikan diri menyusun masing – masing. Jika selama ini etika dalam pendidikan merupakan sesuatu yang sulit dipahami oleh anak didik. Mengingat etika lebih diajarkan dalam konteks teori tentang apa yang boleh dan tidak dapat dilakukan.
Yang mesti kita ajarkan adalah etika bukan dalam bentuk proses kognitif saja, namun juga psikomotorik etika. Contoh sebagai betikut :
‘Guru/dosen datang tepat waktu’
‘Guru/dosen bersikap sopan di dalam kelas’
Adapun langkah – langkah persiapan yang mesti dilalui oleh pengasuh mata ajar adalah sebagai berikut :
a.       Susun tujuan instruksional umum, dan tujuan instruksional khusus. Dalam kaitan ini yang kebutuhan adalah kemampuan untuk merumuskan kompetensi, yang lazim dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).
b.      Masukan pada masing – masing sesi pelajaran soft skill apa yang akan dihasilkan. Setelah kompetensi masing – masing sesi dirumuskan, kemudian dapat pula memasukan bagaimana cara pembelajaran yang menumbuhkan masing – masing soft skill yang diharapkan.
c.       Rencanakan bagaimana metode operasional melaksanakannya, baik pada masing – masing sesi ajar, maupun pada beberapa pertemuan.
d.      Lakukan uji coba pada suatu kelas atau sekelompok anak.
e.      Review hasil uji coba untuk perbaikan. Sebuah proses penerapan metode menerapkan soft skill tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.
f.        Finalisasi metode pembelajaran. Setelah dilakukan cara berulang, maka kemudian dapat dituliskan dalam bentuk teaching manual sebuah pembelajaran.
Selama ini setidaknya dapat kita catat 5 jenis metode yang lazim digunakan. Ke-lima metode tersebut akan dijabarkan secara ringkas guna dapat dipahami mana yang paling dapat diterapkan untuk anak didik kita dan sesuai dengan lingkungannya, sebagai berikut :

1.       Metode Komunitas
Pada metode ini proses pembelajaran soft skill dilakukan melalui pengumpulan peserta didik di kelas untuk belajar sambil bersosialisasi dengan teman – temannya. Metode ini adalah mudah mengontrol pelaksanaan kegiatan proses belajar – mengajar.
Kelemahan metode komunitasa ini sering dijalankan bersifat monoton atau statis saja.
2.       Metode Pembelajaran Jarak Jauh Distance Learning
Pada metode ini, para peserta didik dapat saja belajar di rumah masing – masing, di labor atau praktek kerja. Proses belajar mengajara dilakukanmelalui bantauan modul pelajaran.
Kekuatan dari metode ini adalah bagi yang sudah terbiasa melakukan proses belajar mandiri, maka dengan tersedianya modul bisa dipelajari anak didik. Kesulitannya adalah memerlukan pihak eksternal yang dapat memudahkan proses pembelajaran. Khususnya bagi materi ajar yang tingkat kerumitannya adalah rumit.
3.       Kunjungan Tutor ‘Tutor Visit’
Lain metode distance learning, lain pula pelaksanaan metode tutor learning. Pada metode ini peserta tetap belajar di rumah. Namun dalam proses belajar mengajar, para peserta didik didampingi oleh Tutor.
Kekuatan utama metode ini adalah jika komunitas yang akan diajarkan adalah sudah tentu. Misalnya petani, peternak, atau pengrajin.
4.        Project Class.
Pada konteks bentuk pengajaran yang keempat ini, para peserta melakukan kegiatan percobaan – percobaan, khususnya di laboratoriaum, dan atau di bengkel kerja.
5.       Metode Outing
Pada metode outing, yang lagi banyak direplikasi oleh para pemerhati  pendidikan. Pada metode ini, para peserta didik berupaya belajar dari alam, dalam konteks ini tempat mempelajari apa saja yang lebih terbuka sifatnya, seperti komunitas dan disesuaikan berupa kunjungan di tempat terbuka.
     








Soft Skills di Boarding/ Asrama

        Selain kegiatan ekstrakulikuler melalui organisasi kemahasiswaan, maka kegiatan yang sama juga dapat di lanjutkan di rumah – rumah dan asrama mahasiswa. Memang kegiatan di rumah dan asrama akan lebih banyak untuk belajar mandiri dan istirahat, namum sebuah institusi yang baik mesti mendesain kegiatan asrama terkait dengan pengembangan ranah agama, etika, dan kegiatan minat dan bakat lainnya.
        Review terhadap berjalannya boarding school system di Amerika dan Malaysia (Elfindri dkk, 2008) menemukan bahwa anak – anak yang tinggal di asrama cenderung memiliki sifat filantropis yang relative maju dibandingkan dengan mereka yang dibesarkan di rumah masing – masing.
        Sebuah contoh asrama di Universitas  Andalas justru memberikan efek samping positif, dimana anak – anak kampus diwajibkan sholat Subuh berjamaah ke masjid, kemudian mereka bergiliran untuk mempelajari bahan agama dan berdiskusi. Kegiatan yang indah seperti ini niscaya akan melahirkan mereka yang memiliki kepekaan hati yang tinggi. Ini yang dimaksud mengajarkan soft skill di Boarding.
        Jika tidak ada program, maka sebaiknya anak – anak yang mengambil inisiatif. Kegiatan apa yang mereka rancang. Ini pada gilirannya akan menyebabkan sebuah boarding menjadi betah untuk dihuni oleh mahasiswa.                                                                  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar